Ranah

Seedstars Pamerkan Startup Inovasi Disabilitas di Jakarta

89
×

Seedstars Pamerkan Startup Inovasi Disabilitas di Jakarta

Sebarkan artikel ini
lulusannya-masuk-forbes,-program-ini-sukses-cetak-startup-disabilitas
Lulusannya Masuk Forbes, Program Ini Sukses Cetak Startup Disabilitas

Jakarta – SEED Inclusivity Program Demo Day menampilkan deretan inovasi teknologi yang ditujukan untuk memperluas akses bagi penyandang disabilitas. Kegiatan ini merupakan tahap kedua dari rangkaian program SEED Inclusivity yang diinisiasi Seedstars dengan dukungan Visa Foundation.

Dalam gelaran yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu itu, 17 startup dari berbagai negara di Asia memamerkan solusi yang berfokus pada inklusi disabilitas. Ajang ini juga menegaskan upaya Seedstars dan para peserta program untuk menyasar pasar yang selama ini belum banyak tergarap di Asia.

Kawasan Asia diketahui memiliki sekitar 690 juta penyandang disabilitas. Melalui program ini, Seedstars berharap dapat membuka jalan bagi pendanaan di segmen yang dinilai menyimpan potensi besar tersebut.

Sejauh ini, 15 startup pada tahap pertama SEED Inclusivity telah mencatat pertumbuhan signifikan. Dampaknya menjangkau hampir tiga juta orang, sementara pendanaan lanjutan yang berhasil dihimpun lebih dari US$12 juta.

Salah satu contoh capaian program terlihat dari alumni SEED Inclusivity, Rezki Achyana, pendiri sekaligus CEO Parakerja, yang masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024. Sejak mengikuti tahap pertama program, platform penempatan kerja bagi penyandang disabilitas miliknya mencatat kenaikan pendapatan tahunan 42 persen dan menambah jumlah karyawan penuh waktu dari 9 menjadi 16 orang.

Program lead SEED Inclusivity, Archie Moberly, menilai hasil yang muncul di Jakarta memperkuat keyakinan yang telah dibangun sejak program dimulai.

“Apa yang kami lihat di Jakarta menegaskan sesuatu yang telah kami ketahui sejak memulai program ini. Ketika hambatan antara para founder penyandang disabilitas dan sistem pendukung yang tersedia bagi wirausahawan lainnya dihilangkan, maka hasilnya akan berbicara,” ujarnya.

Sejumlah startup asal Indonesia juga memamerkan inovasi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar lokal. PetaNetra, misalnya, mengembangkan navigasi berbasis AR dan AI untuk membantu penyandang tunanetra bergerak mandiri di area indoor.

Ada pula Silang.id, platform digital yang menghubungkan komunitas Tuli dengan penerjemah bahasa isyarat secara on-demand. Sementara itu, Karla Bionics mengembangkan perangkat bionik dan alat rehabilitasi melalui riset yang berfokus pada kebutuhan pengguna.

Dari luar Indonesia, sejumlah startup lain juga mencuri perhatian. Bioniks asal Pakistan menawarkan kaki palsu berbasis AI dengan harga terjangkau, sedangkan I-Stem dari India dan Amerika Serikat memanfaatkan AI untuk membuka akses karier dan pendidikan digital.