Padang – Panitia Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026 tancap gas mematangkan regulasi teknis melalui rangkaian rapat finalisasi Technical Hand Book (THB). Pertemuan yang berlangsung di Kantor KONI Sumbar sejak Selasa (9/6/2026) ini menjadi penentu kesiapan seluruh cabang olahraga sebelum perhelatan akbar dimulai pada 2 Oktober mendatang.
Sekretaris Panitia Persiapan Porprov 2026, David Melko, mengungkapkan bahwa agenda sinkronisasi aturan main ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga Kamis (11/6/2026). Seluruh Technical Delegate (TD) dari berbagai cabang olahraga dilibatkan untuk memastikan setiap detail teknis pertandingan berjalan sesuai rencana.
“Rapat ini krusial untuk menyelaraskan aturan main. Hari pertama kami fokus pada kriket, karate, bola tangan, kick boxing, dan angkat besi. Selanjutnya, Rabu dan Kamis, kami tuntaskan pembahasan untuk cabang lain seperti sepak bola, atletik, hingga bela diri seperti pencak silat dan wushu,” papar David.
Khusus untuk cabang olahraga kick boxing, kesepakatan teknis telah dicapai. Pertandingan dijadwalkan berlangsung pada 8-13 Oktober 2026 di GOR Batu Batupang, Kabupaten Solok. KBI Sumbar menetapkan dua kategori utama, yakni ring sport dan tatami, yang terbuka bagi atlet putra maupun putri.
Ketua Harian Pengprov Kick Boxing Indonesia (KBI) Sumatera Barat, Fazril Ale, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga stabilitas persiapan. Ia memastikan tidak ada perubahan mendasar, baik dari sisi nomor pertandingan maupun alokasi anggaran yang telah ditetapkan.
“Kami tidak ingin memperumit persiapan. Fokus utama kami adalah memastikan Porprov bisa terlaksana setelah delapan tahun vakum. Ini adalah komitmen bersama agar ajang ini sukses digelar,” tegas Fazril.
Terkait detail teknis kick boxing, kategori ring sport akan mempertandingkan kelas low kick dan full contact. Sementara itu, kategori tatami mencakup empat nomor, yakni kick light, light contact, point fighting, serta form (kreatif).
Seluruh atlet yang berlaga diwajibkan memiliki KTP Sumatera Barat dan menyandang sabuk berwarna. Panitia tidak memberlakukan batasan usia maupun syarat prestasi khusus terkait persiapan menuju PON, sehingga ajang ini menjadi ruang kompetisi yang inklusif bagi para atlet daerah.






