Ranah

BRIN Kaji Strategi Efisiensi Energi BTS Tekan Biaya Operasional

136
×

BRIN Kaji Strategi Efisiensi Energi BTS Tekan Biaya Operasional

Sebarkan artikel ini
di-balik-internet-cepat-ri-ada-konsumsi-energi-yang-besar,-wilayah-ini-juaranya
Di Balik Internet Cepat RI Ada Konsumsi Energi yang Besar, Wilayah Ini Juaranya

Jakarta – Sektor telekomunikasi di Indonesia kini menghadapi tantangan efisiensi energi yang kian mendesak seiring dengan lonjakan trafik data digital. Data terbaru menunjukkan konsumsi energi jaringan seluler nasional telah menyentuh angka 14,7 GWh per hari atau mencapai 5,4 TWh dalam setahun, dengan Pulau Jawa menjadi penyumbang beban energi terbesar yakni 51 persen dari total kebutuhan nasional.

Masifnya penggunaan layanan digital dan video streaming memaksa operator terus menambah infrastruktur Base Transceiver Station (BTS). Ekspansi masif ini berimplikasi langsung pada pembengkakan biaya operasional perusahaan.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mochamad Mardi Marta Dinata, mengungkapkan bahwa energi menyedot porsi signifikan dari anggaran operasional operator. “Sekitar 20 persen biaya operasional operator digunakan untuk energi, bahkan, berdasarkan laporan tahunan salah satu operator telekomunikasi di Indonesia, hampir 90 persen konsumsi energi berasal dari operasional BTS,” paparnya.

Guna memetakan persoalan tersebut, tim peneliti BRIN melakukan kajian komprehensif dengan menganalisis data dari 8.500 BTS yang tersebar di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sebanyak 40 titik sampel dipilih untuk merepresentasikan pola konsumsi energi dari berbagai tipe infrastruktur, mulai dari Macro, Micro, Pico, hingga In-Building System (IBS).

Mardi menjelaskan, riset ini bertujuan mengisi kekosongan pemodelan energi jaringan seluler berbasis stok BTS yang selama ini belum tersedia di level makro. Hasil kajian diharapkan menjadi acuan strategis bagi operator dalam menyusun perencanaan jangka panjang, khususnya terkait efisiensi energi dan target dekarbonisasi jaringan.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah penerapan sistem hibrida yang mengintegrasikan panel surya, baterai, dan generator untuk mengurangi ketergantungan pada energi konvensional. “Efisiensi energi tertinggi dapat dicapai apabila operator mampu menghasilkan energi sendiri melalui sumber energi terbarukan,” tegas Mardi.

Langkah transisi energi ini dinilai krusial bagi industri telekomunikasi agar tetap mampu menjaga efisiensi operasional di tengah tren pertumbuhan trafik data yang terus meningkat setiap tahunnya.