Ekonomi

BSI Optimalkan Zakat Indonesia, Rilis Kerangka Kerja Zakat Hijau

183
×

BSI Optimalkan Zakat Indonesia, Rilis Kerangka Kerja Zakat Hijau

Sebarkan artikel ini

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, Kerangka Kerja Zakat Hijau ini merupakan inisiatif strategis pertama di dunia

bsi-meluncurkan-kerangka-kerja-zakat-hijau.-apa-itu?
BSI Meluncurkan Kerangka Kerja Zakat Hijau. Apa Itu?

Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) terus berupaya mengoptimalkan potensi zakat nasional yang diperkirakan mencapai Rp 327 triliun.

Guna merealisasikan potensi tersebut, BSI meluncurkan Green Zakat Framework.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyampaikan, Kerangka Kerja Zakat Hijau ini merupakan inisiatif strategis pertama di dunia yang mengintegrasikan nilai keberlanjutan dalam praktik zakat.

Hal itu ia sampaikan saat peluncuran Green Zakat Framework bersama United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Jakarta, Rabu (27/8/2025).

Anggoro menjelaskan, Green Zakat Framework tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pengentasan kemiskinan, tetapi juga mendukung kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

“Green Zakat Framework diharapkan dapat menciptakan kolaborasi yang lebih luas antarlembaga dan meningkatkan minat masyarakat untuk berzakat, sehingga potensi zakat Indonesia yang mencapai Rp 327 triliun dapat dioptimalkan,” jelasnya dalam keterangan tertulis.

BSI mencatat, hingga Mei 2025, pihaknya telah menyalurkan zakat sebesar Rp 65,6 miliar secara year-to-date.

Penyaluran tersebut difokuskan pada bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah atau advokasi dengan total penerima manfaat mencapai 240.075 orang.

Secara total, BSI telah mendistribusikan zakat hampir Rp 1 triliun yang berasal dari zakat korporat dan pegawai.

Selain penyaluran zakat, BSI juga aktif menyalurkan pembiayaan berkelanjutan. Per Juni 2025, BSI mencatat telah menyalurkan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp 72,8 triliun.

Angka tersebut terdiri dari kategori green financing Rp 15,3 triliun dan social financing sebesar Rp 57,5 triliun.

Penyaluran green financing BSI didominasi oleh sektor pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan, eco efficient, hingga energi terbarukan.

Anggoro menambahkan, percepatan pembiayaan berkelanjutan dapat mendukung tercapainya pembangunan nasional yang berkelanjutan.

“Hal ini merupakan bagian dari strategi BSI sebagai agen perubahan dalam bisnis berkelanjutan, menjaga kelestarian lingkungan, memastikan pertumbuhan ekonomi yang merata, menjaga daya saing nasional, serta memperkuat peran Indonesia dalam menghadapi krisis iklim global,” pungkasnya.