EdukasiRanahTeknologi

Daikin Edukasi Arsitek Soal Tata Udara Ideal

144
×

Daikin Edukasi Arsitek Soal Tata Udara Ideal

Sebarkan artikel ini
daikin-pilih-jalur-yang-berbeda
Daikin Pilih Jalur yang Berbeda

Jakarta – Daikin menegaskan bahwa air conditioner atau AC bukan sekadar perangkat penyejuk ruangan, melainkan bagian dari ekosistem tata udara yang perlu diperhitungkan sejak tahap awal perencanaan bangunan. Karena itu, perusahaan elektronik asal Jepang tersebut aktif mengedukasi arsitek, desainer interior, hingga mahasiswa agar lebih memahami pentingnya sistem tata udara yang ideal.

General Manager PT Daikin Airconditioning Indonesia Wenky Handono mengatakan langkah itu mencerminkan komitmen perusahaan yang dinilai tidak lazim di industri. Untuk mewadahinya, Daikin menggelar Daikin Designer Award atau DDA 2026 sebagai ajang bagi pelaku arsitektur dan desain interior untuk berbagi visi mengenai ruang hidup yang seimbang antara estetika, kenyamanan, dan kesehatan.

Kompetisi yang telah berlangsung sejak 2020 itu lahir dari kebutuhan menyediakan ruang bagi arsitek dan desainer interior dalam merumuskan gagasan ruang ideal. Menurut Wenky, pengenalan solusi tata udara sejak awal perencanaan diharapkan dapat memunculkan inspirasi bagi hunian dan bangunan komersial yang tetap memerhatikan nilai estetika sekaligus sistem tata udara di dalamnya.

“Dengan memperkenalkan solusi tata udara kepada para arsitek dan desainer sejak tahap perencanaan, kami berharap bisa mendorong tumbuhnya inspirasi hunian dan bangunan komersial ideal yang menaruh perhatian pada nilai estetika dan penciptaan tata udara di dalamnya,” kata Wenky di Jakarta, Kamis malam, 30 April 2026.

Ia menambahkan, semangat tersebut sejalan dengan konsep AC Daikin Home Central. Solusi AC sentral untuk hunian dan bangunan komersial itu dilengkapi beragam fitur yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik, mulai dari filtrasi berlapis untuk mengeliminasi partikel berbahaya di udara hingga kemampuan mengatur tingkat kelembapan.

“Fokus utamanya bukan hanya pada estetika desain, melainkan juga kenyamanan dan kesehatan penghuninya melalui rancangan sistem tata udara yang terintegrasi,” ujar Wenky.

DDA 2026 dibuka untuk peserta dari empat negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Kompetisi ini menyasar kalangan profesional sekaligus mahasiswa.

Peserta dapat mengikuti lomba berdasarkan aplikasi bangunan untuk hunian maupun bangunan komersial F&B. Ajang ini juga mencakup karya terbangun dan rancangan konseptual di bidang desain arsitektur serta desain interior.

Khusus kategori karya terbangun untuk hunian, kompetisi ini menyediakan subkategori apartemen atau kondominium, menyesuaikan perkembangan hunian vertikal.