Ranah

FGD Padang Panjang Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

132
×

FGD Padang Panjang Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Sebarkan artikel ini
padang-panjang-perkuat-kesiapsiagaan-hadapi-enam-potensi-bencana
Padang Panjang Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Enam Potensi Bencana

Padang Panjang – Momentum satu abad Gempa Padang Panjang 28 Juni 1926 kembali mengingatkan warga bahwa ancaman bencana di daerah itu harus dihadapi dengan kesiapsiagaan yang nyata, bukan sekadar peringatan seremonial. Penegasan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Perkumpulan Jurnalis Keterbukaan Informasi Publik (PJKIP) pada Rabu (13/5/2026).

FGD tersebut menghadirkan Plt. Kepala BPBD Kesbangpol Dian Eka Purnama sebagai narasumber dan diikuti berbagai unsur masyarakat, mulai dari KNPI, Karang Taruna, Kelompok Siaga Bencana (KSB) dari 16 kelurahan, PMI, SAR, relawan kebencanaan, hingga insan pers.

Dalam forum itu, Dian Eka menekankan bahwa ancaman bencana di Padang Panjang menuntut kesadaran kolektif serta langkah mitigasi yang serius. Keselamatan warga, tegasnya, tidak bisa ditawar.

“Bencana tidak mengenal waktu. Karena itu kita harus terus membangun kesiapsiagaan agar masyarakat mampu meminimalkan risiko dan selamat saat bencana terjadi,” ujarnya.

Pemerintah Kota Padang Panjang, lanjut Dian Eka, telah menuntaskan Kajian Risiko Bencana (KRB) dan saat ini tengah merampungkan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) serta Rencana Kontijensi. Seluruh dokumen tersebut menjadi bagian dari penguatan sistem penanggulangan bencana daerah.

Ia juga memaparkan enam potensi bencana yang mengancam wilayah itu, yakni gempabumi, banjir, banjir bandang, tanah longsor, bencana gunung api, dan cuaca ekstrem. Karena itu, penanganan bencana tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata, melainkan harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Dari sisi lain, Ketua PJKIP Padang Panjang Rifnaldi menilai peringatan gempa 1926 tidak seharusnya berhenti sebagai agenda tahunan. Peristiwa itu, katanya, perlu menjadi pengingat bahwa Padang Panjang berada di kawasan rawan bencana karena dilintasi Patahan Semangko Segmen Sianok dan Singkarak.

Rifnaldi menambahkan, peringatan satu abad gempa perlu dimaknai sebagai ruang refleksi untuk mengukur sejauh mana kesiapan masyarakat menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

“Bencana tidak pernah memberi tahu kapan datangnya. Karena itu, kewaspadaan, edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan diri,” tegasnya.

Melalui FGD tersebut, diharapkan tumbuh budaya siaga bencana di tengah masyarakat sekaligus meningkatnya pemahaman publik mengenai mitigasi dan langkah penyelamatan diri saat bencana terjadi.