Ranah

ASEAN Foundation Luncurkan Program Cegah Penipuan Daring

237
×

ASEAN Foundation Luncurkan Program Cegah Penipuan Daring

Sebarkan artikel ini
indonesia-tekor-rp9,6-triliun!-ini-5-modus-licik-penipuan-online-paling-banyak-memakan-korban
Indonesia Tekor Rp9,6 Triliun! Ini 5 Modus Licik Penipuan Online Paling Banyak Memakan Korban

Jakarta – Penipuan daring telah menimbulkan kerugian hingga US$23,6 miliar atau sekitar Rp415,2 triliun di Asia Tenggara dalam satu tahun terakhir. Untuk memperkuat respons kawasan terhadap ancaman siber yang kian kompleks, ASEAN Foundation meluncurkan Scam Ready ASEAN dengan dukungan pendanaan US$5 juta atau sekitar Rp88 miliar dari Google.org.

Program ini ditargetkan menjangkau 3 juta warga di 11 negara ASEAN melalui model Train-the-Trainer berskala besar. Skema tersebut dirancang untuk menembus kelompok masyarakat yang selama ini kerap luput dari kampanye literasi digital konvensional.

Lewat 20 organisasi lokal mitra di kawasan, program ini akan menyiapkan 2.000 Master Trainer guna memperluas edukasi pencegahan penipuan ke kelompok yang paling rentan. Sekitar 550 ribu penerima manfaat juga akan mendapatkan modul terstruktur dan alat interaktif, termasuk gim Be Scam Ready, yang dirancang untuk memperkuat pengetahuan, kepercayaan diri digital, dan kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi penipuan di ruang online yang semakin rumit.

Scam Ready ASEAN juga diperkuat melalui enam dialog kebijakan nasional dan tiga dialog regional. Upaya ini dimaksudkan agar ketahanan komunitas bergerak seiring dengan penguatan regulasi dan koordinasi lintas sektor di level pemerintah.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat lebih dari 411 ribu laporan kasus penipuan online sepanjang 2025. Total estimasi kerugian finansial dari kasus tersebut mencapai sekitar US$550 juta atau Rp9,6 triliun.

Laporan itu menunjukkan lima modus penipuan yang paling sering muncul, yakni phishing, rekayasa sosial, impersonation, penipuan investasi online, dan penipuan pembayaran berbasis QR. Pola kejahatan tersebut terus berevolusi seiring pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), platform pembayaran digital, serta taktik lintas platform yang makin rumit.

Pemerintah Indonesia telah memperkuat respons melalui penguatan regulasi keamanan siber, kampanye edukasi publik, serta kolaborasi yang lebih erat dengan lembaga keuangan dan penyedia layanan telekomunikasi. Namun, pesatnya adopsi AI generatif, meluasnya penggunaan pembayaran digital, dan meningkatnya aktivitas media sosial membuat penipuan online semakin canggih dan sulit terdeteksi.

Dampaknya kini dirasakan berbagai kelompok, mulai dari anak muda, keluarga, dan lansia hingga pengguna internet baru yang makin rentan menjadi sasaran penipuan digital.