Jakarta – Friendster resmi kembali hadir dengan wajah baru yang mengubah arah platform itu dari media sosial berbasis popularitas menjadi jejaring privat yang menekankan hubungan pertemanan di dunia nyata.
Mengutip Walas Tech, Kamis, 30 April 2026, Friendster versi terbaru hadir dengan pendekatan yang lebih sederhana. Platform ini kini menitikberatkan koneksi antarpengguna yang memang sudah saling mengenal, sementara fitur umum di media sosial modern seperti algoritma, iklan, dan feed publik ditinggalkan.
Friendster juga mengusung pesan yang tegas: menghadirkan jejaring sosial tanpa “keribetan” yang selama ini kerap melekat pada media sosial masa kini. Perusahaan menegaskan tidak menjual data pengguna, sebagai jawaban atas meningkatnya kekhawatiran soal privasi di era digital.
Dalam penggunaannya, platform ini mendorong orang menambahkan teman secara langsung, termasuk melalui koneksi antarperangkat ponsel, alih-alih mencari akun atau mengirim permintaan pertemanan kepada orang asing. Feed yang tersedia pun hanya diperuntukkan bagi lingkaran pertemanan nyata, tanpa campur tangan algoritma yang menentukan konten.
Seluruh aktivitas, termasuk postingan dan pesan, tetap berada dalam jaringan privat pengguna. Friendster tidak menampilkan indikasi fitur viral atau distribusi konten ke publik luas, sehingga pengalaman yang ditawarkan menjadi lebih terkendali dan minim gangguan seperti spam maupun iklan.
Langkah ini menandai perubahan besar dibandingkan Friendster versi lama yang sempat dikenal lewat profil kustom, testimonial, dan eksplorasi jaringan sosial yang lebih luas. Setelah sempat mengikuti tren Web3, semua elemen itu kini dihapus demi membentuk platform yang lebih tertutup dan terarah.
Meski konsep tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan sebagian pengguna saat ini, sejumlah tantangan masih membayangi. Untuk sementara, Friendster versi baru baru tersedia di iPhone, tanpa kepastian kapan aplikasi itu hadir di Android atau platform lain.
Kondisi ini berpotensi membatasi pertumbuhan pengguna, terutama di kawasan seperti Asia Tenggara yang mayoritas memakai perangkat Android. Kembalinya Friendster dengan pendekatan baru pun memunculkan pertanyaan: apakah pengguna siap beralih ke media sosial yang lebih privat dan terbatas, atau tetap memilih platform besar dengan jangkauan lebih luas.






