InternasionalRanah

LKAAM Sumbar Soroti Pertumbuhan Muslim di China

194
×

LKAAM Sumbar Soroti Pertumbuhan Muslim di China

Sebarkan artikel ini
ketua-lkaam-sumbar-melawat-ke-china,umat-islam-berkembang-capai-25,9-juta 
Ketua LKAAM Sumbar Melawat ke China,Umat Islam Berkembang Capai 25,9 Juta 

Beijing – Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Prof Dr H Fauzi Bahar, MSi Dt Sati, menyoroti pertumbuhan komunitas Muslim di China yang kini diperkirakan mencapai 25,9 juta jiwa, atau kurang dari 2 persen dari total populasi negara itu.

Dalam rangka kunjungan resmi ke sejumlah kota besar di China, Fauzi melihat pemerintah setempat memberi perhatian besar kepada generasi muda agar mempelajari berbagai bidang ilmu, termasuk Islam, demi menopang kehidupan yang lebih baik. Pandangan itu, baginya, sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan pencarian ilmu sebagai bagian penting dalam kehidupan.

“Menurut Islam, semua orang haruslah terus menuntut ilmu, dan seperti kita ketahui pepatah yang sangat populer adalah Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” ujar Fauzi Bahar, Jumat (15/5), saat menyampaikan laporan perjalanannya kepada wartawan.

Fauzi menjelaskan, Muslim di China umumnya berasal dari kelompok etnis minoritas. Dua komunitas terbesar adalah Hui dan Uighur, dengan konsentrasi penduduk Muslim paling banyak berada di wilayah barat laut, terutama Xinjiang dan Ningxia.

Di sejumlah kota besar, masjid juga mudah ditemukan. Shanghai dan Chengdu termasuk di antaranya. Akses makanan halal, lanjut Fauzi, relatif terjaga karena hampir semua kampus memiliki kantin Muslim.

Pada Kamis (14/5), Fauzi bersama rombongan mengunjungi Universitas Islam di China. Pada hari yang sama, mereka juga tiba di Danau Kanas, Prefektur Altay, Xinjiang, salah satu destinasi terkenal di China yang dikelilingi pegunungan bersalju dan hutan hingga dijuluki “Swissnya Asia”.

Danau yang berada di utara Xinjiang itu tidak jauh dari perbatasan Mongolia, Kazakhstan, dan Rusia. Fauzi menggambarkan kawasan tersebut masih diselimuti salju meski berada di ketinggian 3.700 meter di atas permukaan laut.

“Kami dan rombong ke Danau Kanas dengan Salju yang masih terbentang diatas ketinggian danau 3700 M diatas permungkaan air laut dan peradabannya seperti Turki dengan suasana makan malam yanh nuansa keislaman,” ujarnya.