Pulau Obi – Kehadiran perempuan dalam lini operasional Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, menjadi penanda berubahnya wajah industri pertambangan dan peleburan nikel yang selama ini didominasi laki-laki. Di sejumlah posisi strategis, para pekerja perempuan itu memegang peran penting dalam menjaga keselamatan kerja, mengendalikan risiko, dan memastikan perlindungan lingkungan berjalan sesuai standar.
Di sektor yang kerap dipersepsikan keras, bising, dan berisiko tinggi, para perempuan di Harita Nickel memperlihatkan bahwa kesempatan kerja ditentukan oleh kompetensi, bukan jenis kelamin. Mereka menempati jabatan teknis dan operasional yang menuntut ketelitian, kehati-hatian, serta tanggung jawab besar.
Bagi PT Trimegah Bangun Persada (TBP), unit bisnis pertambangan Harita Nickel, curah hujan tinggi menjadi tantangan sehari-hari. Di titik ini, Senior Mine Hydrology Engineer Esmar Sulea Datu Lalong dan Environment Supervisor Mira Marlinda memimpin pengelolaan air limpasan atau run-off dari area tambang ke kolam pengendapan.
Keduanya bertugas memastikan air yang masuk ke sediment pond ditangani secara optimal. Salah satu fasilitas yang mereka awasi adalah kolam Tugu Raci 2 seluas 43 hektare, tempat kualitas air dikontrol ketat melalui metode fisika dan kimia.
“Kami mengelola air limpasan melalui sediment pond sebelum dialirkan keluar. Di sana, kualitas air dipantau dan dikendalikan agar memenuhi baku mutu yang ditetapkan,” kata Esmar dan Mira.
Tantangan serupa juga dihadapi Rahma Maulida di fasilitas Dry Stack Tailing Facility (DSTF) PT Halmahera Persada Lygend (PT HPL). Sebagai Laboratory Assistant Engineer, ia bertanggung jawab mengawal air limpasan di area penempatan sisa hasil pengolahan atau tailing.
“Monitoring kualitas air kami lakukan setiap hari di inlet dan outlet. Kami harus memastikan operasional aman dari longsor dan potensi pencemaran,” ujar Rahma.
Dari wilayah pesisir, perhatian terhadap ekosistem dijaga melalui peran Environment Marine Foreman Putri Wulandari. Lulusan Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Khairun Ternate itu memimpin berbagai kegiatan lapangan, mulai dari penanaman mangrove, pemasangan media tumbuh karang, hingga pemantauan rutin laut.
“Pekerjaan di lapangan menuntut ketelitian dan konsistensi. Upaya kami adalah bagian dari pengendalian dampak dan pemulihan ekosistem di Kawasan Industri Obi,” ujar Wulan.
Jika Wulan berfokus pada pemantauan pesisir, Yufita Tuhuteru menangani risiko operasional di pabrik. Sebagai Process Safety Engineer PT HPL, perempuan asal Soligi, desa lingkar utama operasional Harita Nickel di Pulau Obi, itu memegang kendali keselamatan proses di pabrik penghasil baterai kendaraan listrik.
Berbekal gelar magister kimia dari Universitas Gadjah Mada, Yufita memusatkan perhatian pada keselamatan instalasi mesin untuk mencegah skenario berbahaya seperti ledakan atau kebocoran gas. Menurut dia, menjaga pabrik tetap aman berarti turut melindungi rekan kerja dan warga dari desa asalnya.
Seluruh upaya pengendalian dari hulu hingga hilir itu ditopang oleh kepatuhan terhadap prosedur. Di pabrik peleburan PT Halmahera Jaya Ferronikel (HJF), Claudia Kowaas, Occupational Health and Safety Compliance System Staff, memastikan prosedur K3 tidak berhenti sebagai dokumen administratif.
“Kepatuhan prosedur adalah fondasi mutlak. Ini nyawa yang menjamin pekerja bisa pulang dengan selamat,” tegas alumnus Universitas Sam Ratulangi tersebut.
Kehadiran perempuan di posisi-posisi krusial itu menjadi penanda transformasi industri tambang ke arah yang lebih inklusif. Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Hendra Sinadia mencatat, peran perempuan di sektor pertambangan terus berkembang dan ikut mengubah paradigma industri hingga level kepemimpinan.
Di Harita Nickel, Esmar, Mira, Rahma, Wulan, Yufita, dan Claudia menunjukkan bahwa perempuan bukan hadir sekadar memenuhi kuota. Mereka mengambil keputusan teknis, memitigasi risiko, dan berdiri di garis depan untuk memastikan operasi berjalan selaras dengan keselamatan manusia serta kelestarian alam.






