Ekonomi

Pupuk Indonesia Bangun 8 Pabrik Baru demi Perkuat Industri Nasional

28
×

Pupuk Indonesia Bangun 8 Pabrik Baru demi Perkuat Industri Nasional

Sebarkan artikel ini

Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan pembangunan serta revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian industri nasional.

Langkah strategis ini didukung oleh peningkatan kinerja keuangan serta transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan bersama Danantara Indonesia.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyatakan bahwa pertumbuhan kinerja perusahaan kini menjadi fondasi untuk membangun kapasitas industri jangka panjang bagi Indonesia.

“Industrialisasi merupakan DNA Pupuk Indonesia sejak pembangunan Pabrik PUSRI pada 1959, dan transformasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutannya agar semakin efisien dalam operasional, tangguh, dan mampu menjawab kebutuhan pangan serta industri nasional dalam jangka panjang,” ujar Rahmad pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Transformasi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan reinvestasi dalam melanjutkan estafet industrialisasi.

Agenda industrialisasi ini menyasar dua lini utama, yakni penguatan industri pupuk melalui revitalisasi serta pengembangan produk kimia bernilai tambah melalui hilirisasi gas bumi.

Proyek yang akan dijalankan mencakup revitalisasi Amurea Pusri IIIB, serta pengembangan Amurea Papua Barat, Amurea PIM III, dan Pabrik NPK Steam Granulasi Gresik.

Perusahaan juga mendorong diversifikasi melalui pengembangan Soda Ash di Bontang dan Gresik, serta proyek metanol di Lhokseumawe dan Bontang.

Pupuk Indonesia turut menyiapkan inisiatif jangka panjang berupa pembangunan Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat dan pabrik amonia-urea di Maluku untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Industrialisasi harus mampu menumbuhkan industri baru, membuka lapangan kerja, memperkuat ekosistem nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia strategis,” tambah Rahmad.

Kinerja keuangan perusahaan mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan laba bersih sebesar Rp8,51 triliun pada Semester I 2026 atau meningkat 253 persen secara tahunan.

Pendapatan perusahaan tumbuh 51 persen menjadi Rp59,67 triliun, sementara EBITDA naik 140 persen menjadi Rp14,28 triliun berkat efisiensi operasional.

Transformasi menyeluruh yang dilakukan mencakup perbaikan tata kelola distribusi serta penguatan bisnis komersial.

Penerapan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 turut memperkuat disiplin biaya dan kepastian pasokan bahan baku bagi perusahaan.

Dari sisi pelayanan, Pupuk Indonesia menyalurkan 8.110.571 ton pupuk bersubsidi sepanjang tahun 2025 atau meningkat 10,68 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Proses distribusi pupuk bersubsidi kini semakin cepat dan tepat sasaran berkat implementasi sistem i-Pubers serta Command Center.

Dengan kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, perusahaan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri.

“Bagi kami, keberhasilan transformasi tidak hanya diukur dari kinerja keuangan atau seberapa banyak pupuk yang diproduksi, tetapi dari seberapa besar kontribusi Pupuk Indonesia dalam memastikan pupuk semakin mudah diakses petani, memperkuat industri nasional, dan menjaga keberlanjutan swasembada pangan,” tutup Rahmad.