Padang – Inovasi perajin aksesori tradisional Welly Nofi Sastra berhasil menyulap warisan budaya Minangkabau menjadi komoditas ekonomi kreatif bernilai tinggi.
Sentra produksi yang berlokasi di Parupuak Tabing kini menjadi lumbung ratusan kreasi deta dan tingkuluak yang merambah pasar digital nasional.
Omzet bulanan mencapai Rp25 juta berhasil dikantongi seiring dengan kapasitas produksi yang menembus angka 400 unit per bulan.
Welly mengamankan seluruh orisinalitas desainnya melalui perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Langkah hukum tersebut memberikan fondasi kokoh bagi sang perajin untuk terus berkreasi tanpa bayang-bayang plagiarisme.
Keberhasilan ekspansi bisnis ini ditopang kuat oleh strategi pemasaran daring serta manajemen operasional yang efektif.
Peran Rumah BUMN BNI menjadi katalisator utama dalam memperluas jangkauan pasar produk lokal ini secara masif.
Fasilitas tersebut berfungsi sebagai etalase strategis yang menjembatani produk UMKM dengan konsumen potensial di berbagai wilayah.
Dampak positif serupa turut dirasakan oleh pelaku usaha lain, seperti Dapur Yonica, yang berkembang pesat di bawah ekosistem binaan BNI.
Rumah BUMN BNI secara rutin mengikutsertakan para pelaku UMKM dalam berbagai perhelatan pameran berskala daerah hingga nasional.
Saat ini, sedikitnya 500 pelaku usaha telah bergabung dalam jaringan pembinaan tersebut untuk memacu literasi bisnis mereka.
Fasilitator Rumah BUMN BNI, Nana, menegaskan bahwa konsistensi digital adalah kunci utama bagi pelaku usaha kecil untuk tetap relevan di pasar modern.
Program pendampingan ini hadir secara komprehensif, mulai dari pelatihan teknis, digitalisasi usaha, hingga perluasan jejaring bisnis.
BNI terus memposisikan diri sebagai pilar pendukung kemandirian ekonomi rakyat melalui beragam program pemberdayaan masyarakat.
Sinergi antara kreativitas perajin dan dukungan kelembagaan terbukti ampuh mengangkat standar produk lokal menjadi lebih kompetitif di kancah ekonomi nasional.






