Ranah

Sumbar Gelar Bimtek, Aktifkan Regenerasi Pemangku Adat

242
×

Sumbar Gelar Bimtek, Aktifkan Regenerasi Pemangku Adat

Sebarkan artikel ini
dinas-kebudayaan-sumbar-dorong-regenerasi-adat-lewat-bimtek-pemangku-adat
Dinas Kebudayaan Sumbar Dorong Regenerasi Adat Lewat Bimtek Pemangku Adat

Padang – Dinas Kebudayaan Sumatera Barat (Sumbar) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengaku Adat untuk memperkuat peran ninik mamak dan pemangku adat. Tujuannya, mewariskan nilai budaya Minangkabau kepada generasi muda.

Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Jefrinal Arifin, menyebut Bimtek ini sebagai langkah strategis melestarikan adat. Sekaligus menghidupkan kembali semangat kebudayaan yang mulai memudar akibat pengaruh globalisasi.

“Kami ingin ninik mamak kembali mengajarkan nilai dan pengetahuan adat kepada generasi muda,” kata Jefrinal, Selasa (11/6/2024).

Jefrinal menyoroti banyak anak muda Minang yang tidak lagi mengenal sukunya. Mereka juga kehilangan pemahaman tentang sumbang duo baleh serta kato nan ampek.

Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan dana dari Anggota DPRD Sumbar, Jefri Masrul. Tema yang diangkat adalah “Pulangkan Siriah ka Tampuaknyo”.

Tujuannya agar pemangku adat kembali meneguhkan fungsi sosial dan kulturalnya di masyarakat.

Jefrinal mengakui, Budaya Alam Minangkabau (BAM) telah masuk kurikulum sekolah. Namun, banyak guru belum memahami substansi budaya karena bukan dari latar belakang kebudayaan.

“Banyak guru BAM berasal dari bidang olahraga atau eksakta. Mereka tidak memahami nilai-nilai budaya Minangkabau,” jelasnya.

Keterbatasan tenaga pengajar BAM menjadi tantangan besar. Jefrinal mendorong para ninik mamak agar berbagi ilmu kepada guru di sekolah.

“Ninik mamak bisa menjadi pengajar bagi guru, bukan di kelas tapi melalui pelatihan,” katanya.

Dinas Kebudayaan akan memilih orang yang kapabel menjadi narasumber di daerahnya masing-masing.

Jefrinal juga menyinggung pentingnya memperkuat peran Bundo Kanduang dan lembaga adat. Hal ini untuk menanamkan etika dan sopan santun pada anak muda.

Nilai-nilai adat dan ajaran ABS-SBK (Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah) perlu dipraktikkan kembali dalam kehidupan sosial.

“Tingkah laku dan sopan santun mulai berkurang. Bundo Kanduang harus menjadi lampapeh rumah gadang yang menjaga marwah keluarga,” tambahnya.

Jefrinal menilai tantangan kebudayaan Minangkabau saat ini cukup kompleks. Mulai dari disrupsi budaya, lemahnya peran ninik mamak dan Bundo Kanduang, hingga ketimpangan pemahaman ABS-SBK di kalangan muda.

Ketua Panitia kegiatan, Fadhli Junaidi, menyebut peserta Bimtek berasal dari 17 nagari di Kabupaten Tanah Datar.

“Kami berharap kegiatan ini melahirkan tokoh adat muda yang memahami nilai budaya Minangkabau,” pungkasnya.