BeritaInspiratorPemerintahanRanah

Gubernur Mahyeldi Tantang Mahasiswa UMN Bukittinggi Teladani Nilai Perjuangan Mohammad Natsir

45
×

Gubernur Mahyeldi Tantang Mahasiswa UMN Bukittinggi Teladani Nilai Perjuangan Mohammad Natsir

Sebarkan artikel ini
gubernur-mahyeldi-ajak-mahasiswa-umn-bukittinggi-warisi-nilai-perjuangan-mohammad-natsir
Gubernur Mahyeldi Ajak Mahasiswa UMN Bukittinggi Warisi Nilai Perjuangan Mohammad Natsir

Bukittinggi – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mendesak mahasiswa baru Universitas Mohammad Natsir (UMN) Bukittinggi untuk memikul tanggung jawab moral yang melekat pada nama besar sang pahlawan nasional.

Seruan tersebut dilontarkan Mahyeldi saat meresmikan pembukaan Masa Ta’aruf di Aula Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Senin (28/9/2026).

Ia menegaskan bahwa identitas kampus bukan sekadar formalitas administratif, melainkan mandat untuk meneladani integritas dan pemikiran negarawan penggagas Mosi Integral tersebut.

Mahyeldi menempatkan sosok Mohammad Natsir sebagai pilar fundamental dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Ke depan, kita berharap mahasiswa di sini bisa menginternalisasikan nilai-nilai dari Pak Natsir dan menjadi tokoh baru yang mewarisi sifat beliau,” ujar Mahyeldi.

Gubernur bahkan melontarkan usulan strategis agar singkatan kampus diubah menjadi “UM Natsir” guna memperkuat resonansi keteladanan sang tokoh dalam keseharian mahasiswa.

Rektor UMN Bukittinggi, Alfihan Afrifani Ahmad, menyambut tantangan tersebut dengan mengakui besarnya beban tanggung jawab yang dipikul institusinya.

Lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Sumbar ini bertekad melahirkan lulusan yang melampaui standar akademik konvensional.

“Nama itu bukan hanya sebatas nama, tapi ada nilai-nilai di sana, ada beban,” tegas Alfihan.

Pihak kampus memastikan kurikulum pendidikan akan difokuskan pada penguatan karakter agar mahasiswa tidak terjebak dalam orientasi pengejaran ijazah semata.

Mahasiswa dituntut mampu memberikan kontribusi nyata bagi diri sendiri, keluarga, hingga skala nasional.

Alfihan menambahkan bahwa warisan intelektual dan kepedulian sosial dari tokoh besar seperti Mohammad Natsir, Sutan Sjahrir, hingga Agus Salim harus menjadi kompas bagi seluruh sivitas akademika.

Semangat tersebut diyakini menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang mampu menjaga kedaulatan serta kesejahteraan bangsa.