EkonomiRanah

AHY Ungkap Penyebab Sepinya Kertajati: Lokasi dan Konektivitas

154
×

AHY Ungkap Penyebab Sepinya Kertajati: Lokasi dan Konektivitas

Sebarkan artikel ini
ahy-bicara-sepinya-bandara-kertajati
AHY Bicara Sepinya Bandara Kertajati

Majalengka – Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati sepi penumpang karena lokasi yang kurang strategis dan minimnya konektivitas. Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

AHY menilai, pembangunan infrastruktur besar seperti Kertajati seharusnya terintegrasi dengan pengembangan wilayah sekitar.

“Bandaranya besar, bagus, megah, tapi in the middle of nowhere. Pembangunan kurang terintegrasi, bandara dibangun duluan tapi konektivitasnya terlambat, jadinya tanggung,” ujar AHY dalam jumpa pers, Selasa (21/10/2025).

Pemerintah kini mendorong kolaborasi antara pengelola BIJB Kertajati dan Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia untuk layanan perawatan pesawat (MRO).

“Meski penumpangnya belum ramai, kawasan Kertajati bisa dimanfaatkan sebagai pusat perawatan pesawat. Saat ini sudah digunakan untuk perbaikan helikopter,” kata AHY.

Bandara Kertajati beroperasi penuh sejak 2023 dengan kapasitas 6 juta penumpang per tahun, namun aktivitasnya belum optimal.

Saat ini, hanya maskapai Scoot yang melayani rute Majalengka-Kuala Lumpur dua kali seminggu.

Senior Executive Vice President PT BIJB, Ronald Sinaga, menyebut rendahnya okupansi membuat maskapai enggan membuka rute baru.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat penurunan penumpang domestik hingga 78 persen di semester I 2025.

Ronald meminta dukungan pemerintah daerah untuk menghidupkan aktivitas Kertajati melalui promosi wisata, pembangunan kawasan industri, dan peningkatan investasi.

Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), Alvin Lie, menilai sepinya Kertajati akibat pembangunan yang tidak mempertimbangkan kebutuhan riil dan ekonomi wilayah sekitar yang lemah.

Alvin juga menilai desain Kertajati yang megah justru membebani biaya operasional.