Ranah

BI Luncurkan Gerai Edukasi Keuangan Digital di Kampus UNS

168
×

BI Luncurkan Gerai Edukasi Keuangan Digital di Kampus UNS

Sebarkan artikel ini
inklusi-keuangan-tembus-80-persen,-literasi-tertinggal
Inklusi Keuangan Tembus 80 Persen, Literasi Tertinggal

Surakarta – Bank Indonesia (BI) resmi membuka Gerai CERDAS PeKA (Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia Peduli, Kenali, Adukan) di Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS), Jumat (10/4/2026). Fasilitas ini dihadirkan sebagai upaya strategis menekan kesenjangan antara tingginya inklusi keuangan dengan rendahnya literasi keuangan digital di Indonesia.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen, namun literasi keuangan masih tertahan di angka 66,46 persen. Kesenjangan ini menjadi perhatian serius mengingat dominasi generasi muda dalam ekosistem ekonomi digital nasional.

Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI, Anton Daryono, menegaskan bahwa mahasiswa menjadi target utama edukasi karena mereka merupakan digital native yang aktif bertransaksi. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai pengguna aktif teknologi sekaligus agen edukasi di lingkungannya.

Gerai CERDAS PeKA berfungsi sebagai pusat edukasi bagi mahasiswa untuk memahami risiko transaksi digital, mulai dari perlindungan data pribadi hingga cara mengenali berbagai modus penipuan. Program ini merupakan bagian dari kampanye nasional Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK) yang melibatkan regulator, industri keuangan, dan perguruan tinggi.

Rektor UNS, Hartono, menyoroti urgensi literasi keuangan di tengah maraknya kejahatan siber. Berdasarkan data, terdapat lebih dari 225 ribu laporan kasus penipuan keuangan sejak akhir 2024 hingga 2025 dengan total kerugian mencapai Rp 4,6 triliun.

“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial, kita justru dihadapkan pada meningkatnya kasus penipuan keuangan digital dan maraknya pinjaman online ilegal,” ungkap Hartono.

Ia berharap kolaborasi antara DANA Indonesia dan Sekolah Vokasi UNS melalui gerai ini dapat mencetak generasi muda yang lebih bijak dan waspada dalam memanfaatkan layanan keuangan digital. BI menegaskan, penguatan literasi merupakan fondasi krusial agar pertumbuhan ekonomi digital tidak dibarengi dengan lonjakan kejahatan siber terhadap konsumen.

Surakarta – Bank Indonesia (BI) meresmikan Gerai CERDAS PeKA (Cakrawala Edukasi dan Ruang Diskusi Aman untuk Semua Konsumen Indonesia Peduli, Kenali, Adukan) di Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS), Jumat (10/4/2026). Fasilitas ini hadir sebagai upaya strategis menekan kesenjangan antara tingginya inklusi keuangan dengan rendahnya literasi keuangan digital di Indonesia.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan tingkat inklusi keuangan telah mencapai 80,51 persen, namun literasi keuangan masih tertahan di angka 66,46 persen. Kesenjangan ini menjadi perhatian serius, terutama mengingat dominasi Generasi Z dan milenial dalam ekosistem ekonomi digital nasional.

Kepala Departemen Surveilans Sistem Pembayaran dan Pelindungan Konsumen BI, Anton Daryono, menegaskan bahwa kampus menjadi target utama edukasi karena mahasiswa merupakan digital native yang aktif bertransaksi.

“Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai pengguna aktif teknologi sekaligus agen edukasi di lingkungannya,” ujar Anton saat peresmian gerai tersebut.

Gerai CERDAS PeKA berfungsi sebagai pusat edukasi bagi mahasiswa untuk memahami risiko transaksi digital, mulai dari perlindungan data pribadi hingga cara mengenali berbagai modus penipuan. Program ini merupakan bagian dari kampanye nasional Gerakan Bersama Edukasi Pelindungan Konsumen (GEBER PK) yang melibatkan regulator, industri keuangan, dan perguruan tinggi.

Rektor UNS, Hartono, menyoroti urgensi literasi keuangan di tengah meningkatnya kasus kejahatan siber. Berdasarkan data, terdapat lebih dari 225 ribu laporan kasus penipuan keuangan sejak akhir 2024 hingga 2025 dengan total kerugian mencapai Rp 4,6 triliun.

“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial, kita justru dihadapkan pada meningkatnya kasus penipuan keuangan digital dan maraknya pinjaman online ilegal,” jelas Hartono.

Ia berharap kolaborasi antara DANA Indonesia dan Sekolah Vokasi UNS melalui Gerai CERDAS PeKA dapat mencetak generasi muda yang lebih bijak dan waspada dalam memanfaatkan layanan keuangan digital. BI menegaskan bahwa penguatan literasi menjadi fondasi krusial agar pertumbuhan ekonomi digital tidak dibarengi dengan lonjakan kejahatan siber terhadap konsumen.