EkonomiRanah

BRI Cetak Laba Tinggi, Dorong Ekonomi Kerakyatan

152
×

BRI Cetak Laba Tinggi, Dorong Ekonomi Kerakyatan

Sebarkan artikel ini
cetak-laba-rp41,2-triliun,-bri-perkuat-peran-strategis-dorong-ekonomi-kerakyatan
Cetak Laba Rp41,2 Triliun, BRI Perkuat Peran Strategis Dorong Ekonomi Kerakyatan

an melalui program “BRIVolution Reignite”. Fokusnya pada transformasi bisnis funding dan penguatan core business yang berkelanjutan.

“Sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pertumbuhan, BRI juga terus mengembangkan “Second Engines of Growth” melalui penguatan segmen konsumer dan pengembangan layanan bullion atau bank emas,” kata Hery.

Total aset BRI tumbuh 8,2 persen yoy, menjadi Rp2.123,4 triliun.

Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tumbuh 8,2 persen yoy menjadi Rp1.474,8 triliun.

Penyaluran kredit BRI tumbuh 6,3 persen yoy menjadi Rp1.438,1 triliun.

BRI mencetak laba bersih sebesar Rp41,2 triliun hingga akhir Triwulan III 2025.

Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI ada di 25,4%, di atas ketentuan minimum regulator.

Loan to Deposit Ratio (LDR) bank berada di level 86,5 persen.

Rasio dana murah (CASA) meningkat menjadi 67,6 persen pada akhir Triwulan III 2025.

Rasio Non-Performing Loan (NPL) BRI berada di level 3,08 persen, dengan NPL Coverage Ratio mencapai 183,1 persen.

Pertumbuhan CASA mencapai 14,1 persen yoy, didorong oleh kenaikan dana giro yang tumbuh sebesar 24,5 persen yoy dan tabungan tumbuh 7,2 persen yoy.

Jumlah pengguna BRImo meningkat 19,4 persen yoy menjadi 44,4 juta user, dengan volume transaksi naik 25,6 persen yoy menjadi Rp5.067,1 triliun.

Qlola by BRI mencatat peningkatan volume transaksi sebesar 35,4 persen yoy menjadi Rp9.317 triliun.

Volume transaksi bisnis merchant BRI meningkat 20,8 persen secara yoy, menjadi Rp160,7 triliun. Volume transaksi QRIS BRI meningkat 133,1 persen yoy menjadi Rp59,4 triliun dengan jumlah transaksi meningkat 161,4 persen yoy menjadi 527,5 miliar transaksi.

Komposisi transaksi melalui channel digital telah mencapai 99,4 persen dari total transaksi BRI.

Holding UMi telah menjangkau 34,5 juta debitur aktif dengan 185 juta rekening simpanan mikro. BRI juga memiliki 1.035 outlet SenyuM, serta 3,8 juta nasabah emas dengan total simpanan 13,7 ton, tumbuh 66,9 persen yoy.

Jumlah AgenBRILink telah mencapai lebih dari 1,2 juta agen atau tumbuh 17,8 persen secara yoy.

AgenBRILink mencatatkan volume transaksi sebesar Rp1.293,5 triliun atau tumbuh 10,6 persen yoy.

pada aset, kredit, dan dana pihak ketiga.

Capaian ini menjadi landasan bagi BRI untuk memperkuat perannya dalam mendorong perekonomian nasional.

Hal ini dilakukan melalui dukungan terhadap program prioritas pemerintah dan penyaluran pembiayaan ke sektor produktif, terutama UMKM.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa kondisi makroekonomi nasional yang stabil turut menopang capaian positif BRI.

PDB diproyeksikan stabil di atas 5 persen dengan ruang fiskal yang luas.

Inflasi berada pada level stabil sekitar 2,65 persen, dengan nilai tukar dan cadangan devisa yang kuat mendukung pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia.

“Dengan kondisi makro perekonomian Indonesia dan kebijakan moneter yang positif, hal ini berdampak terhadap stabilitas industri perbankan nasional,” ujar Hery dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/10/2025).

BRI melihat prospek pertumbuhan ke depan akan semakin kuat, ditopang oleh penurunan biaya dana (cost of fund), perbaikan likuiditas, serta peningkatan permintaan kredit di sektor produktif dan konsumtif.

Sebagai bank yang fokus pada ekonomi kerakyatan, BRI terus konsisten mendukung program strategis pemerintah.

BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp130,2 triliun kepada 2,8 juta debitur, setara 74,4 persen dari total alokasi Rp175 triliun pada periode Januari hingga September 2025.

BRI juga berperan aktif dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tercatat 3.854 Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) telah memperoleh layanan perbankan dari BRI.

Dari sisi pembiayaan, BRI telah menyalurkan Rp104,4 miliar untuk pembangunan Dapur MBG di berbagai wilayah.

BRI juga berkomitmen mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) melalui pendampingan dan pemberdayaan koperasi, serta menyediakan layanan transaksi perbankan masyarakat melalui Agen BRILink.

Selain itu, BRI berpartisipasi aktif dalam program 3 Juta Rumah dengan menyalurkan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kepada 110 ribu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di seluruh Indonesia, dengan nilai penyaluran kredit mencapai Rp15,07 triliun hingga akhir September 2025.

BRI juga telah mengoptimalkan penempatan dana pemerintah sebesar Rp55 triliun yang bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk pembiayaan di sektor produktif.

Dana tersebut telah dialokasikan secara penuh pada segmen mikro sebesar Rp28,08 triliun, korporasi Rp11,07 triliun, komersial Rp10,13 triliun, dan konsumer Rp6,58 triliun.

BRI juga mengambil peran dalam penyaluran Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai Rp2,25 triliun kepada 3,7 juta penerima, serta pembiayaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) kepada 110 ribu masyarakat berpenghasilan rendah dengan nilai penyaluran Rp15,07 triliun.

Di samping itu, Perseroan juga mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan akan berperan dalam penyaluran Bantuan Langsung Tunai Sementara Kesejahteraan Rakyat (BLTS Kesra) guna menjaga daya beli masyarakat.

Hery menegaskan bahwa pencapaian BRI juga didorong oleh transformasi bisnis yang berkelanjutan melalui program “BRIVolution Reignite”, yang berfokus pada dua pilar utama: transformasi bisnis funding dan penguatan core business yang berkelanjutan.

“Sebagai bagian dari strategi diversifikasi sumber pertumbuhan, BRI juga terus mengembangkan “Second Engines of Growth” melalui penguatan segmen konsumer dan pengembangan layanan bullion atau bank emas,” kata Hery Gunardi.

Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan, kinerja keuangan BRI hingga Triwulan III 2025 pun menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan, dengan fokus strategi penghimpunan dana murah (CASA) yang berhasil mendorong efisiensi biaya dana dan menopang fundamental bisnis perseroan.

Tercatat, total aset BRI tumbuh 8,2 persen yoy, menjadi Rp2.123,4 triliun.

Selanjutnya, dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI juga menunjukkan peningkatan yang solid, di mana dana pihak ketiga tercatat tumbuh 8,2 persen yoy menjadi Rp1.474,8 triliun.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BRI tumbuh 6,3 persen yoy menjadi Rp1.438,1 triliun.

“Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan. BRI berhasil mencetak Laba bersih sebesar Rp41,2 triliun hingga akhir Triwulan III 2025,” tegasnya.

Kinerja keuangan yang solid tersebut juga tercermin dari aspek permodalan dan likuiditas.

Direktur Finance & Strategy BRI Viviana Dyah Ayu menjelaskan bahwa BRI memiliki permodalan yang kuat.

“Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI ada di 25,4%, di atas ketentuan minimum regulator. Kondisi ini menunjukkan kemampuan BRI menyerap risiko sekaligus menyediakan ruang untuk ekspansi bisnis sehat dan berkelanjutan,” ujar Viviana.

Selain itu, dari sisi likuiditas, Loan to Deposit Ratio (LDR) bank berada di level yang memadai sebesar 86,5 persen.

Angka ini memberikan ruang likuiditas yang memadai bagi BRI untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Kondisi likuiditas yang memadai tersebut juga didukung oleh perbaikan struktur pendanaan BRI yang tercermin dari rasio dana murah (CASA) yang meningkat menjadi 67,6 persen pada akhir Triwulan III 2025.

“Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga (pendanaan) yang optimal,” ujarnya.

Dari sisi manajemen risiko, BRI terus menjaga kualitas aset dan disiplin prudential banking.

Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom menjelaskan bahwa rasio Non-Performing Loan (NPL) BRI berada di level 3,08 persen, dengan NPL Coverage Ratio mencapai 183,1 persen.

“Angka ini menunjukkan tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian yang tinggi. Dengan coverage ratio yang sangat memadai, BRI mampu menjaga stabilitas neraca secara berkelanjutan sekaligus memberikan keyakinan kepada investor dan regulator,” jelasnya.

Selanjutnya, pertumbuhan dana pihak ketiga BRI secara konsolidasi tercatat tumbuh 8,2 persen yoy menjadi Rp1.474,8 triliun.

Secara kualitas, komposisi dana juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan porsi CASA meningkat menjadi 67,6 persen dari total DPK.

Pertumbuhan CASA mencapai 14,1 persen yoy, didorong oleh kenaikan dana giro yang tumbuh sebesar 24,5 persen yoy dan tabungan tumbuh 7,2 persen yoy.

Keberhasilan BRI untuk terus meningkatkan DPK utamanya pada dana murah tak lepas dari berbagai strategi Retail Funding & Transaction yang diterapkan, diantaranya Optimalisasi Digital Channel, Penguatan Produk dan fungsi pemasar, Optimalisasi bisnis Wealth Management, Kolaborasi dengan perusahaan anak, dan Peningkatan Payroll yang berkualitas.

Transformasi struktur pendanaan yang dijalankan BRI melalui penguatan ekosistem digital seperti BRImo, Qlola by BRI, QRIS, dan perluasan transaksi merchant telah menunjukkan hasil positif.

Inisiatif ini mendorong peningkatan volume transaksi sekaligus memperkuat pertumbuhan dana murah (CASA).

Jumlah pengguna BRImo meningkat 19,4 persen yoy menjadi 44,4 juta user, dengan volume transaksi naik 25,6 persen yoy menjadi Rp5.067,1 triliun.

Selain itu, Qlola by BRI, platform digital untuk nasabah wholesale dan korporasi, juga mencatat peningkatan volume transaksi sebesar 35,4 persen yoy menjadi Rp9.317 triliun.

“Volume transaksi bisnis merchant BRI meningkat 20,8 persen secara yoy, menjadi Rp160,7 triliun. Sementara itu volume transaksi QRIS BRI meningkat 133,1 persen yoy menjadi Rp59,4 triliun dengan jumlah transaksi meningkat 161,4 persen yoy menjadi 527,5 miliar transaksi,” katanya.

Semakin kuatnya ekosistem digital banking BRI juga tercermin dari komposisi transaksi melalui channel digital yang telah mencapai 99,4 persen dari total transaksi BRI.

Hal ini mencerminkan keberhasilan BRI dalam mendorong migrasi nasabah dari transaksi berbasis outlet ke kanal digital yang lebih efisien, cepat dan aman

Komposisi CASA yang meningkat berkontribusi langsung pada penurunan biaya dana pihak ketiga.

Dengan demikian, transformasi digital BRI tidak hanya memperluas akses layanan dan kenyamanan nasabah, namun juga memperkuat profitabilitas perseroan serta menjadi fondasi bagi pertumbuhan BRI secara berkelanjutan.

Selain penguatan di sisi funding, BRI juga memperkokoh bisnis mikro dan sinergi di bawah Holding Ultra Mikro (UMi).

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa BRI terus melakukan business process reengineering untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi layanan mikro, termasuk redesain peran mantri dan optimalisasi platform BRIspot.

“Hingga akhir September 2025, Holding UMi yang terdiri dari BRI, Pegadaian, dan PNM telah menjangkau 34,5 juta debitur aktif dengan 185 juta rekening simpanan mikro. Kami juga memiliki 1.035 outlet SenyuM, serta 3,8 juta nasabah emas dengan total simpanan 13,7 ton, tumbuh 66,9 persen yoy,” ujar Akhmad.

Sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perputaran roda perekonomian, BRI juga terus mendorong inklusi keuangan sekaligus menciptakan sharing economy dengan melibatkan masyarakat sebagai Agen BRILink.

Hingga akhir September 2025, jumlah AgenBRILink telah mencapai lebih dari 1,2 juta agen atau tumbuh 17,8 persen secara yoy.

Agen-agen tersebut tersebar di 66 ribu desa, menjangkau lebih dari 80 persen penjuru negeri.

“Dari sisi transaksi, AgenBRILink mencatatkan volume transaksi sebesar Rp1.293,5 triliun atau tumbuh 10,6 persen yoy, menunjukkan peran yang semakin vital dalam memberikan akses layanan keuangan formal kepada masyarakat,” kata Akhmad.

Di samping melalui pembiayaan dan sharing economy AgenBRILink, BRI juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan.

Wakil Direktur Utama BRI Agus Noorsanto menyampaikan sejumlah program yang m