EkonomiRanah

Ekspor Nikel dan Baja Pacu Surplus Dagang

279
×

Ekspor Nikel dan Baja Pacu Surplus Dagang

Sebarkan artikel ini
nikel-hingga-besi-baja-jadi-penyumbang-utama-surplus-neraca-perdagangan
Nikel hingga Besi Baja Jadi Penyumbang Utama Surplus Neraca Perdagangan

Jakarta – Kabar baik datang dari neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus kembali terjadi berkat kinerja ekspor komoditas unggulan.

Surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai US$ 35,88 miliar pada periode Januari hingga Oktober 2025.

Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar US$ 10,98 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, Senin (1/12/2025).

Menurut Pudji, surplus ini didukung oleh komoditas nonmigas sebesar US$ 51,51 miliar. Sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$ 15,63 miliar.

Komoditas yang memberikan kontribusi utama terhadap surplus antara lain lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar minyak (BBM), besi dan baja, produk nikel, serta alas kaki.

Secara rinci, lemak dan minyak hewani/nabati menyumbang keuntungan dagang US$ 28,12 miliar, BBM US$ 22,59 miliar, besi dan baja US$ 15,79 miliar, produk nikel US$ 7,39 miliar, serta alas kaki US$ 5,47 miliar.

Total ekspor periode Januari-Oktober 2025 mencapai US$ 234,04 miliar, naik 6,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tiga negara tujuan ekspor utama Indonesia adalah Cina, Amerika Serikat, dan India, dengan kontribusi 41,84 persen dari total ekspor nonmigas.

Ekspor ke Cina didominasi oleh besi dan baja, BBM, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian, serta alas kaki.

Nilai impor Indonesia pada Januari-Oktober 2025 tercatat sebesar US$ 198,16 miliar, meningkat 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor nonmigas tercatat sebesar US$ 171,61 miliar, naik 4,95 persen. Sementara impor migas turun 12,67 persen menjadi US$ 26,56 miliar.

Peningkatan impor utama terjadi pada barang modal, mencapai US$ 40,55 miliar atau naik 18,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Cina menjadi negara utama asal impor nonmigas Indonesia dengan nilai US$ 70,19 miliar atau 40,9 persen, diikuti Jepang sebesar US$ 12,17 miliar dan Amerika Serikat sebesar US$ 8,17 miliar.