Ranah

Penetrasi Internet Indonesia Tembus 235 Juta Jiwa pada 2026

147
×

Penetrasi Internet Indonesia Tembus 235 Juta Jiwa pada 2026

Sebarkan artikel ini
gen-z-vs-milenial:-siapa-yang-paling-enggak-bisa-hidup-tanpa-internet-di-2026?
Gen Z vs Milenial: Siapa yang Paling Enggak Bisa Hidup Tanpa Internet di 2026?

Jakarta – Akses internet di Indonesia kian meluas dengan mencatatkan angka penetrasi sebesar 81,7 persen atau setara dengan 235,26 juta jiwa. Data Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa teknologi digital kini telah menjadi kebutuhan pokok bagi mayoritas penduduk tanah air.

Kelompok usia produktif, khususnya Generasi Z dan milenial, menjadi penggerak utama transformasi digital ini dengan tingkat penetrasi masing-masing mencapai 89,02 persen dan 90,34 persen. Selain faktor usia, tingkat pendidikan turut memengaruhi intensitas penggunaan internet. Masyarakat berpendidikan tinggi memimpin dengan penetrasi 92,49 persen, sementara kelompok lulusan SMA/SMK berada di angka 90,44 persen.

Dari sisi produktivitas, pekerja menjadi kontributor terbesar dalam pemanfaatan internet dengan penetrasi 84,9 persen. Aktivitas komunikasi dan media sosial menempati urutan teratas tujuan penggunaan internet sebesar 19,9 persen, disusul oleh konsumsi hiburan digital, pencarian informasi, serta transaksi ekonomi digital.

Pertumbuhan juga terlihat pada sektor fixed broadband atau internet tetap. Hingga Mei 2026, jumlah pelanggan layanan ini mencapai 99,51 juta jiwa, meningkat 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Jumlah masyarakat yang berlangganan internet tetap mencapai 99.515.436 jiwa, dengan pertumbuhan pelanggan sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Mayoritas pelanggan internet tetap menggunakan layanan internet kabel atau fiber sebesar 37,9 persen,” papar Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Di balik tren positif tersebut, tantangan keamanan siber masih menjadi ancaman serius. Survei mencatat penipuan daring mendominasi dengan angka 13,6 persen, diikuti oleh risiko peretasan atau pencurian data pribadi sebesar 7,8 persen.

Kesenjangan akses juga masih menjadi pekerjaan rumah. Sebanyak 34 persen responden yang belum terhubung internet mengaku terkendala ketiadaan perangkat, 31,5 persen terkendala literasi digital atau ketidakpahaman cara pengoperasian, serta 17,2 persen merasa harga kuota internet masih membebani ekonomi mereka.