EkonomiRanah

PMI Sentuh Rekor, Manufaktur Indonesia Terus Bergeliat

194
×

PMI Sentuh Rekor, Manufaktur Indonesia Terus Bergeliat

Sebarkan artikel ini
pmi-manufaktur-november-2025-naik-ke-level-tertinggi-sejak-februari
PMI Manufaktur November 2025 Naik ke Level Tertinggi sejak Februari

Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia menunjukkan tren positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada November 2025 mencatatkan angka 53,3, berada di zona ekspansi.

Data ini dirilis oleh Standard & Poor’s (S&P) Global Ratings.

Angka PMI manufaktur November ini lebih tinggi dari capaian Oktober 2025 yang berada di level 51,2. Bahkan, ini menjadi level tertinggi sejak Februari 2025 yang mencatatkan angka 53,6.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengungkapkan ekspansi pada November didorong oleh kenaikan volume output. Ini menjadi pertumbuhan pesanan baru tercepat sejak Agustus 2023.

“Perekonomian domestik menjadi pendorong utama permintaan menjelang akhir tahun 2025, karena perusahaan mencatat penurunan pesanan ekspor baru yang lebih tajam,” kata Usamah dalam keterangan resminya, Senin (2/12/2025).

Kenaikan permintaan ini, lanjut Usamah, membuat produksi kembali meningkat pada November. Ini menjadi peningkatan pertama dalam tiga bulan terakhir.

Perusahaan merespons peningkatan beban kerja dengan menaikkan tingkat pembelian dan ketenagakerjaan. Tanda-tanda tekanan pada kapasitas juga terlihat dengan kenaikan tumpukan pekerjaan yang paling tajam sejak September 2021.

S&P juga mencatat perusahaan berupaya menjaga kecukupan stok input produksi. Akibatnya, terjadi akumulasi persediaan pembelian terkuat dalam delapan bulan.

Namun, ada tekanan tambahan terhadap pasokan karena waktu tunggu rata-rata untuk pengiriman input meningkat. Hal ini disebabkan keterlambatan pengiriman dan cuaca buruk.

Di sisi lain, produsen juga mencatat tekanan harga yang semakin intensif menjelang akhir tahun. Perusahaan berupaya mengalihkan kenaikan biaya input kepada klien dengan menaikkan harga pabrik hingga tingkat tertinggi selama satu setengah tahun lebih.

“Inflasi biaya merupakan yang paling tinggi dalam sembilan bulan di tengah peningkatan harga bahan baku dan fluktuasi nilai tukar,” pungkas Usamah.