Jakarta – Pengguna Android di Indonesia perlu waspada. Serangan malware perbankan melonjak 56% pada tahun 2025, mengincar data finansial sensitif.
Informasi ini terungkap dalam laporan terbaru Kaspersky, perusahaan keamanan siber global.
Malware ini dirancang untuk mencuri kredensial perbankan online, data kartu kredit, dan informasi layanan pembayaran elektronik.
Kaspersky menemukan bahwa penyebaran malware perbankan umumnya terjadi melalui aplikasi pesan dan situs web berbahaya.
Lonjakan signifikan juga terjadi pada paket instalasi Trojan perbankan baru untuk Android, mencapai 255.090 paket. Angka ini melonjak 271% dibandingkan tahun sebelumnya.
Para ahli Kaspersky memperingatkan bahwa pelaku kejahatan siber terus mengembangkan cara baru untuk menyebarkan malware dan menciptakan varian trojan yang lebih sulit dideteksi.
Keluarga Mamont dan Creduz menjadi jenis Trojan perbankan yang paling banyak terdeteksi.
Kaspersky juga mencatat aktivitas spesifik di beberapa negara:
* Jerman: Trojan-Proxy.AndroidOS.Agent.q bersembunyi di aplikasi tidak resmi, meniru layanan diskon supermarket.
* Turki: Pengguna menjadi sasaran Trojan Coper dan Trojan Hqwar yang mencuri informasi keuangan dan pribadi.
* India: Trojan Rewardsteal menyebar mencuri data keuangan, dan Trojan Thamera kembali aktif.
* Brasil: Trojan dropper bernama Pylcasa aktif, mengarahkan pengguna ke situs kasino ilegal atau halaman phishing.
Anton Kivva, Pemimpin Analis Malware Kaspersky, menyoroti tren mengkhawatirkan lainnya, yaitu peningkatan temuan backdoor yang sudah terpasang sebelumnya seperti Triada dan Keenadu.
“Orang-orang membeli perangkat Android baru, tetapi sudah terinfeksi,” kata Kivva.
Backdoor ini memberikan kendali penuh kepada penyerang atas perangkat korban, sehingga seluruh informasi di perangkat berisiko dicuri.
Kivva menyarankan pengguna untuk memeriksa pembaruan firmware jika perangkat terinfeksi. Setelah pembaruan, lakukan pemindaian dengan solusi keamanan untuk memastikan firmware baru tidak terinfeksi.






