Jakarta – Industri farmasi Indonesia kembali mencatatkan prestasi di pasar global. Sebanyak 250 ribu unit obat pereda nyeri Tylenol senilai Rp 2,4 miliar resmi diekspor ke Korea Selatan.
Pelepasan ekspor berlangsung di PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI), Jakarta, pada Jumat (13/2/2026).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menyatakan ekspor ini membuktikan daya saing industri dalam negeri di kancah internasional.
“Ekspor produk farmasi seperti ini menjadi bukti nyata kemampuan produksi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Fajarini berharap PT IHI terus meningkatkan volume produksi, transfer pengetahuan, dan teknologi untuk memperkuat daya saing industri farmasi nasional.
PT IHI merupakan fasilitas produksi di bawah naungan PT Johnson & Johnson yang beroperasi di Indonesia.
PT Johnson & Johnson sendiri adalah bagian dari grup perusahaan kesehatan konsumen global, Kenvue Inc., yang berkantor pusat di Amerika Serikat.
Kehadiran Kenvue Inc. di Indonesia dinilai sebagai sinyal positif atas meningkatnya kepercayaan investor global terhadap iklim usaha nasional.
Fasilitas kawasan berikat yang didapatkan PT IHI dari Direktorat Jenderal Bea Cukai diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat komitmen ekspor.
Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai V dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean A Jakarta, Derry Arifin, menjelaskan fasilitas kawasan berikat memberikan kemudahan kepabeanan dan perpajakan.
Kemudahan tersebut termasuk restitusi pajak bagi pelaku usaha berorientasi ekspor.
Restitusi pajak dapat dimanfaatkan untuk pembelian bahan baku dan mendukung kebutuhan operasional, sehingga meningkatkan daya saing perusahaan di pasar ekspor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor farmasi Indonesia tumbuh 7,63 persen dalam lima tahun terakhir (2021-2025).
Pada 2025, Korea Selatan menjadi tujuan ekspor produk farmasi Indonesia terbesar ketiga dengan nilai US$ 75,46 juta atau 10,24 persen dari total ekspor farmasi Indonesia ke dunia.
Kementerian Perdagangan mencatat permintaan dunia untuk produk farmasi pada periode 2020-2024 mencapai 11,02 persen.
Pendapatan industri farmasi dunia mencapai US$ 1,16 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 1,53 triliun pada 2030 dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 4,74 persen.






