Ranah

Warga Limau Manis Gotong Royong Bangun Jalan Puncak Labuang

80
×

Warga Limau Manis Gotong Royong Bangun Jalan Puncak Labuang

Sebarkan artikel ini
dukung-betonisasi-jalan-puncak-labuang-limau-manis,-pt-semen-padang-bantu-3.000-zak-semen
Dukung Betonisasi Jalan Puncak Labuang Limau Manis, PT Semen Padang Bantu 3.000 Zak Semen

Padang – Warga Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, terus bergotong royong membangun akses jalan menuju kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Puncak Labuang. Melalui swadaya dan dukungan sejumlah pihak, mereka perlahan membuka jalur yang lebih layak untuk menunjang aktivitas pertanian di wilayah itu.

Pembangunan betonisasi jalan di Puncak Labuang telah berlangsung sejak pertengahan 2023 dan kini mulai menunjukkan hasil. Hingga saat ini, sekitar dua kilometer jalan sudah dibeton dengan lebar dua hingga tiga meter dan ketebalan 13 hingga 14 sentimeter. Pengerjaan dilakukan bertahap, dengan warga hampir setiap akhir pekan turun langsung ke lokasi.

Ketua Forum Pemberdayaan Limau Manis, Desi Fitria, mengatakan pembangunan jalan tersebut juga mendapat dukungan PT Semen Padang berupa sekitar 3.000 zak semen. Menurut dia, bantuan itu sangat membantu keberlanjutan proyek jalan yang selama ini menjadi akses utama masyarakat menuju ladang.

“Seluruh pengerjaan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Namun, perjuangan ini tidak berjalan sendiri. PT Semen Padang turut membantu dengan memberikan bantuan sekitar 3.000 zak semen,” ujar Desi saat ditemui di sela kegiatan gotong royong pengecoran Jalan Puncak Labuang, Minggu (10/5/2026).

Ia menambahkan, manfaat bantuan itu sangat dirasakan warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan di Puncak Labuang.

“Untuk itu, atas nama masyarakat dan para peladang Puncak Labuang, kami mengucapkan terima kasih kepada PT Semen Padang. Dukungan ini sangat berarti bagi kami,” katanya.

Sebelum jalan dibeton, warga harus melintasi medan berat untuk mencapai lahan pertanian. Jalur tanah yang licin dan curam membuat perjalanan berisiko, terutama saat musim hujan. Desi menyebut, tidak jarang warga harus berjalan kaki hingga enam jam untuk sampai ke ladang.

“Tidak sedikit peladang yang terjatuh ketika membawa hasil panen menuju pasar karena kondisi jalan yang berlumpur dan sulit dilalui. Kalau hujan, jalan berubah jadi kubangan lumpur. Membawa hasil panen sangat sulit. Banyak masyarakat yang jatuh di jalan karena medannya curam dan licin,” ungkapnya.

Kini kondisi itu mulai berubah. Jalan beton membuat warga dapat menjangkau ladang dengan kendaraan roda empat dalam waktu sekitar 15 menit. Perubahan ini tidak hanya memangkas waktu tempuh, tetapi juga berdampak langsung pada produktivitas pertanian warga.

“Sekarang akses sudah jauh lebih mudah. Masyarakat bisa membawa hasil panen dengan cepat dan aman. Ini sangat membantu aktivitas ekonomi warga,” ujar Desi.

Jalan tersebut memiliki peran vital karena menjadi satu-satunya akses menuju lahan pertanian warga. Di kawasan itu, masyarakat menanam berbagai komoditas unggulan, mulai dari manggis, durian, cengkeh, jeruk, hingga kopi.

Desi mengatakan, sebelum betonisasi dilakukan, banyak peladang memilih membiarkan lahannya tidak digarap karena sulitnya akses menuju lokasi. Namun, dengan akses yang semakin baik, semangat warga untuk kembali mengolah lahan mulai tumbuh.

“Sekarang masyarakat mulai semangat kembali menggarap ladangnya. Kalau dulu banyak lahan yang dibiarkan begitu saja karena aksesnya sulit dilalui kendaraan. Untuk mencapai ladang, masyarakat harus berjalan kaki hingga enam jam. Kini, waktu tempuh ke ladang jauh lebih singkat, hanya sekitar 15 hingga 20 menit,” katanya.

Selain mendukung pembangunan jalan, PT Semen Padang juga disebut ikut mendorong pengembangan Puncak Labuang sebagai destinasi agrowisata. Melalui Forum Pemberdayaan Limau Manis, perusahaan itu membantu pembangunan fasilitas penunjang seperti kamar mandi, toilet di area perkemahan, dan gazebo bagi pengunjung.

Desi menilai kawasan Puncak Labuang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, tidak hanya di sektor pertanian, tetapi juga wisata alam dan perkemahan.

“Masih banyak potensi yang bisa dikembangkan di sini. Selain pertanian, ada juga kawasan camp dan wisata alam yang bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” tuturnya.