PeristiwaRanah

Warga Pessel Gantung Diri di Pohon, Diduga Terlilit Ekonomi

203
×

Warga Pessel Gantung Diri di Pohon, Diduga Terlilit Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Pessel – Warga Kampung Koto Rawang, Nagari Koto Rawang, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan, digegerkan dengan penemuan seorang pria paruh baya yang tewas tergantung di pohon tepi sungai, Selasa (1/7) pagi.

Kasus dugaan bunuh diri ini mengindikasikan adanya permasalahan ekonomi yang membelit korban.

Wakil Kepala Polsek IV Jurai, Ipda Budi Setiawan, mengidentifikasi korban sebagai Kasman Dedi (50).

Menurut keterangan pihak kepolisian, sebelum kejadian, korban sempat berpamitan kepada putrinya.

“Pada Selasa subuh Kasman Dedi mengatakan kepada anaknya, Dina Puspita Sari, untuk pergi buang air besar di sungai di belakang rumahnya,” ungkapnya.

Kekhawatiran keluarga muncul setelah korban tak kunjung kembali dari sungai.

Budi menuturkan, Nia Daniati (39), anak korban lainnya, kemudian berinisiatif mencari ayahnya ke sungai.

“Karena papanya belum pulang, anaknya yang bernama Nia Daniati (39) mencari papanya ke sungai karena khawatir dengan ayahnya sebab ayahnya sakit asam lambung dan sering mengeluh akhir akhir ini. Di sungai anaknya melihat ayahnya tergantung di pohon dalu-dalu,” jelas Budi, menggambarkan suasana penemuan jenazah.

Penemuan tersebut segera dilaporkan kepada keluarga besar korban.

Dijelaskan oleh Budi, informasi ini kemudian diteruskan kepada Datuak Si Un dan Suwardi, yang merupakan kakak korban.

“Suwardi langsung pergi ke lokasi kejadian, yang saat itu sudah terdapat banyak warga yang melihat peristiwa tersebut,” katanya.

Suwardi, yang tiba di lokasi kejadian, segera berupaya menurunkan jenazah korban.

“Suwardi langsung memanjat pohon tempat korban tergantung untuk membuka tali karena tidak tega melihat kakaknya tergantung,” ujar Budi.

Proses evakuasi dilakukan dengan bantuan dua keponakan korban.

“Mereka membawa korban ke rumah duka,” imbuhnya.

Pihak kepolisian menduga kuat motif bunuh diri adalah masalah ekonomi.

Budi menyebutkan bahwa korban berprofesi sebagai buruh pemetik kelapa.

“Korban buruh pemetik kelapa. Korban diduga mengakhiri hidup karena impitan ekonomi. Korban pernah berkata kepada istrinya bahwa dia ingin mengakhir hidup karena sudah tidak tahan dengan impitan ekonomi,” bebernya.

Harjumita, tetangga korban, mengungkapkan keterkejutannya atas kejadian ini.

Menurutnya, korban dikenal sebagai pribadi yang ramah dan tidak menunjukkan tanda-tanda depresi.

Diterangkan lebih lanjut bahwa korban sehari-hari bekerja sebagai pemetik kelapa dengan bantuan beruk, sehingga dikenal dengan sapaan Lin alias Malin Beruk.

“Ia tak menyangka Lin mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu sebab sepengetahuannya, Lin orang yang cerita dan tidak ada masalah,” kata Harjumita.

Lebih lanjut, Harjumita mengungkapkan bahwa Lin tinggal bersama istri, anak-anak, dan cucu-cucunya dalam satu rumah yang dihuni oleh delapan orang.