Ranah

Awak Juo Saksikan Tokoh Lahirkan Dharmasraya, Kini Berdiri

320
×

Awak Juo Saksikan Tokoh Lahirkan Dharmasraya, Kini Berdiri

Sebarkan artikel ini
sudah-22-tahun-berlalu,-gedung -awak-juo-dharmasaraya-nyaris-terlupakan
Sudah 22 Tahun Berlalu, Gedung  Awak Juo Dharmasaraya Nyaris Terlupakan

Dharmasraya – Sebuah rumah makan sederhana di Dharmasraya, Sumatera Barat, menjadi saksi bisu lahirnya Kabupaten Dharmasraya. Di Rumah Makan Awak Juo inilah, para tokoh daerah merumuskan gagasan pemekaran dari Kabupaten Sijunjung.

Bangunan dua lantai ini dulunya menjadi tempat berkumpul para tokoh penting. Mereka membahas strategi dan menimbang risiko pemekaran.

Pada 2002-2003, lantai dua bangunan ini menjadi pusat musyawarah intensif. Para tokoh pemekaran berunding untuk mewujudkan kabupaten baru.

Almarhum H. Adlis Ade, Dt. Penghulu Sati, memimpin perjuangan ini. Sosok yang dikenal teguh prinsip ini menjadi motor penggerak pemekaran.

Kepemimpinan kemudian beralih ke Ir. H. Adi Gunawan, mantan Bupati Dharmasraya periode 2010-2015. Ia menjabat sebagai ketua badan pemekaran kedua.

Masrigi Dt. Rajo Lelo, mantan anggota DPRD Dharmasraya periode 2009-2014, menjadi sekretaris. H. Masrul Maas, mantan Ketua DPRD Dharmasraya periode 2014-2019, mengemban amanah sebagai bendahara.

Leli Arni, satu-satunya tokoh perempuan dari kalangan PNS, turut berjuang. Kini, ia menjabat sebagai wakil bupati Dharmasraya.

Perjuangan pemekaran ini membutuhkan waktu, pikiran, tenaga, dan materi. Para tokoh tetap gigih demi melepaskan diri dari kabupaten induk, Sawahlunto Sijunjung.

Gedung Awak Juo juga pernah menjadi kantor sementara Mapolres Dharmasraya. AKBP Arum Priono, S.I.K., menjadi Kapolres pertama yang bertugas di sana.

Sejarah pemekaran Dharmasraya mencapai puncaknya di halaman Kantor Sedasi Pulau Punjung. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 secara resmi membentuk Kabupaten Dharmasraya.

Prof. Dr. H. Hasan Zaini, M.A., membacakan teks pemekaran. Ia didampingi para tokoh yang telah berkorban demi cita-cita kolektif.

Almarhum Drs. Ahmad Munawar ditunjuk sebagai Penjabat Bupati Dharmasraya. Sejak saat itu, Dharmasraya memulai perjalanan baru sebagai daerah otonom.

Kini, Dharmasraya telah berusia 22 tahun. Pembangunan infrastruktur dan ekonomi terus berjalan.

Gedung Awak Juo tetap berdiri tanpa monumen atau peringatan khusus. Di sanalah, Dharmasraya dilahirkan melalui perdebatan dan keberanian untuk bermimpi besar.