Jakarta – Cahaya biru dari ponsel pintar kerap dianggap sebagai penyebab utama tidur terganggu, terutama saat perangkat digunakan pada malam hari. Namun, para ahli menilai persoalan kualitas tidur tidak sesederhana menyalahkan cahaya biru semata.
Sejumlah pakar menjelaskan, matahari justru merupakan sumber utama cahaya biru, dan tubuh manusia memang dirancang untuk tetap terjaga ketika cahaya itu masuk ke mata. Ilmuwan di Oxford menyebut cahaya yang diterima mata membantu menyelaraskan jam biologis tubuh dengan siklus terang-gelap siang dan malam.
Masalah muncul ketika paparan cahaya biru terjadi pada malam hari. Pada kondisi itu, sistem tubuh dapat menjadi bingung dan memengaruhi ritme sirkadian yang mengatur nafsu makan, pelepasan hormon, serta tidur. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa gangguan tidur tidak hanya dipicu oleh cahaya biru.
Mereka menjelaskan, melanopsin, protein pada mata yang membantu otak membedakan siang dan malam, memang paling sensitif terhadap cahaya biru. Akan tetapi, protein tersebut juga merespons jenis cahaya lain. Karena itu, menyalahkan cahaya biru ponsel sebagai satu-satunya penyebab tidur buruk dinilai terlalu menyederhanakan persoalan.
Sebuah studi di Portugal menemukan bahwa paparan cahaya biru dari perangkat digital umum lebih rendah dibandingkan paparan yang diterima seseorang dari sinar matahari alami. Temuan ini menunjukkan bahwa waktu penggunaan dan kebiasaan tidur bisa lebih menentukan ketimbang sekadar paparan cahaya biru.
Selain warna cahaya, kecerahan perangkat, lama penggunaan, waktu pemakaian, dan stimulasi mental juga turut memengaruhi tidur. Artinya, penggunaan ponsel menjelang tidur dapat mengganggu istirahat bukan hanya karena cahaya yang dipancarkan, tetapi juga karena kebiasaan yang menyertainya.
Mengurangi cahaya biru memang dapat membantu sebagian orang tidur lebih nyenyak. Namun, efektivitasnya bergantung pada cara yang digunakan. Seperti dikutip dari BGR, mode malam pada perangkat dan kacamata anti-cahaya biru sama-sama dapat menekan paparan cahaya gelombang pendek, tetapi mode malam dinilai lebih efektif.
Meski begitu, pengurangan cahaya biru bukan satu-satunya langkah untuk memperbaiki kualitas tidur. Sebuah studi medis di Arab Saudi menemukan bahwa penggunaan perangkat secara umum sebelum tidur juga dapat menurunkan kualitas tidur.






