Ranah

AI Palsukan Identitas, Penipu Raup Untung Besar

209
×

AI Palsukan Identitas, Penipu Raup Untung Besar

Sebarkan artikel ini
identitas-bisa-dicuri-lewat-ai,-pakar-sebut-penipuan-lewat-deepfake-sudah-tak-terkendali
Identitas Bisa Dicuri Lewat AI, Pakar Sebut Penipuan Lewat Deepfake Sudah Tak Terkendali

Jakarta – Penipuan digital berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin mengkhawatirkan. Teknologi deepfake memungkinkan pemalsuan wajah, suara, dan identitas secara meyakinkan.

Pakar AI menyebut fenomena ini telah berkembang menjadi industri yang terorganisir. Biaya pembuatan konten palsu semakin murah dan mudah, memungkinkan produksi massal.

AI Incident Database mencatat lebih dari selusin kasus “penyamaran demi keuntungan” baru-baru ini.

Kasus-kasus tersebut meliputi video deepfake jurnalis, presiden, dokter palsu, hingga perdana menteri yang digunakan untuk mengiklankan investasi bodong.

Tren ini menunjukkan penipu memanfaatkan AI untuk menjalankan aksi yang semakin tertarget dan personal.

Tahun lalu, seorang pejabat keuangan di Singapura kehilangan hampir 500.000 dolar AS setelah mengikuti panggilan video yang ia yakini berasal dari pimpinannya.

Di Inggris, konsumen diperkirakan kehilangan £9,4 miliar akibat penipuan dalam sembilan bulan hingga November 2025.

Simon Mylius, peneliti MIT yang terlibat dalam AI Incident Database, mengungkapkan bahwa teknologi ini semakin mudah diakses.

“Kemampuan teknologi sekarang sudah sampai pada titik di mana konten palsu bisa diproduksi oleh hampir siapa saja,” ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (8/2/2026).

Mylius menambahkan, penipuan, scam, dan manipulasi yang ditargetkan menjadi porsi terbesar insiden yang dilaporkan ke database tersebut dalam 11 dari 12 bulan terakhir.

Fred Heiding, peneliti Harvard yang mempelajari penipuan berbasis AI, menyampaikan pandangan serupa.

“Skalanya sedang berubah,” ujarnya. “Biayanya menjadi sangat murah, hampir semua orang sekarang bisa menggunakannya.”

Jason Rebholz, CEO perusahaan keamanan AI Evoke, bahkan hampir merekrut kandidat kerja yang menggunakan video deepfake saat wawancara daring.

“Latar belakang videonya terlihat sangat palsu,” katanya. “Tampilannya benar-benar terasa tidak alami.”