Jakarta – Kecerdasan buatan (AI) telah merasuk berbagai industri, mengotomatisasi tugas dan melahirkan ide-ide baru.
Namun, potensi pengangguran menjadi kekhawatiran utama. Survei Jakpat terhadap 1423 responden mengungkap tren penggunaan AI di Indonesia pada 2025.
Sebanyak 42% responden menggunakan AI secara profesional dan personal, sementara 20% hanya untuk pekerjaan/belajar dan 10% untuk keperluan sehari-hari.
Adopsi AI bervariasi antar generasi; Gen Z lebih intensif menggunakannya dibandingkan Milenial dan Gen X, ungkap Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna.
Responden merasakan manfaat AI, terutama penghematan waktu dan tenaga (50%), rekomendasi (41%), dan penerjemahan (40%).
Gen Z lebih banyak memanfaatkan AI untuk analisis data (33%), sementara Milenial untuk pembuatan konten (25%).
Namun, kekhawatiran terhadap ketergantungan berlebihan pada AI (64%), penyalahgunaan untuk kejahatan (63%), dan dampak terhadap kreativitas (61%) juga tinggi. Gen Z khususnya cemas terhadap peningkatan pengangguran (60%).
Penggunaan AI di Indonesia meningkat signifikan; hampir 50% responden mulai menggunakannya dalam enam bulan terakhir. ChatGPT (74%) dan Gemini (51%) menjadi aplikasi AI terpopuler, diikuti aplikasi lokal. Sebagian besar (75%) menggunakan aplikasi AI secara gratis.
Konten AI di media sosial, terutama Instagram (62%) dan TikTok (60%), juga mendapat perhatian. Video animasi AI (70%) dan transformasi visual (misalnya, foto menjadi anime) populer. Meski hampir setengah responden mampu membedakan konten AI dan konten buatan manusia, 47% masih ragu.
Hasna menyatakan, tingginya paparan konten AI meningkatkan familiaritas, meski keraguan masih ada.
29% responden mengikuti influencer AI, dengan Arbie Seo populer di kalangan responden lebih tua, sementara Thalasya Pov dan Chaya Gram lebih dikenal Gen Z.






