Jakarta – Studi Yale tahun 2025 menyoroti meningkatnya laporan gangguan kognitif di kalangan usia 18-34 tahun, yang banyak diisi Gen Z dan kelompok usia muda. Keluhan yang paling sering muncul bukan demensia, melainkan kesulitan fokus, sering lupa, serta hambatan dalam mengambil keputusan untuk aktivitas sehari-hari.
Temuan itu memunculkan kembali perhatian terhadap istilah populer “brainrot”, yang digunakan untuk menggambarkan kondisi otak terasa lelah akibat paparan informasi digital berlebihan. Meski bukan istilah medis, tren tersebut dinilai relevan dengan perubahan pola hidup generasi muda yang kian lekat dengan layar dan media sosial.
Peneliti Yale School of Medicine, Adam de Havenon, meminta hasil studi itu dibaca dengan hati-hati. “Masalah pada memori dan cara berpikir telah muncul sebagai salah satu masalah kesehatan utama yang dilaporkan orang dewasa di Amerika Serikat,” ujarnya, dikutip dari Inc, Senin, 27 April 2026.
Ia menegaskan laporan tersebut bukan diagnosis gangguan otak klinis. “Ini bukan diagnosis demensia atau bahkan gangguan kognitif. Ini adalah laporan subjektif dari orang-orang yang merasa mengalami kesulitan serius dalam berkonsentrasi, mengingat, atau membuat keputusan.”
Data penelitian menunjukkan kelompok usia 18-34 tahun mengalami lonjakan hampir dua kali lipat dalam laporan kesulitan kognitif selama satu dekade terakhir. Angkanya naik dari 5,1 persen pada 2013 menjadi 9,7 persen pada 2023, dan menjadi peningkatan paling mencolok dibandingkan kelompok usia lain.
Para peneliti menduga perubahan gaya hidup digital turut berperan dalam tren tersebut. Paparan layar yang tinggi, kebiasaan multitasking, dan konsumsi informasi cepat dari media sosial dinilai dapat memengaruhi kemampuan fokus jangka panjang.
Neuroscientist Jared Cooney Horvath juga menyoroti perubahan itu dalam konteks yang lebih luas. “Selama dua dekade terakhir, perkembangan kognitif anak-anak di banyak negara maju cenderung melambat, dan dalam banyak aspek justru mengalami kemunduran,” ujarnya.
Ia menambahkan, kebijakan yang terlalu cepat mendorong adopsi teknologi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang juga perlu dicermati. Meski belum ada kesimpulan bahwa teknologi menjadi penyebab utama, fenomena itu mulai banyak dikaitkan dengan gaya hidup modern.
Kebiasaan scroll tanpa henti, notifikasi yang terus berdatangan, hingga tekanan untuk selalu “online” dinilai dapat mengganggu kemampuan otak untuk beristirahat. Kondisi ini sekaligus membuka perbincangan baru mengenai pentingnya menjaga keseimbangan hidup di era digital.






