Ekonomi

Revisi Ekonomi 2025: Pemerintah Pangkas, INDEF Prediksi Lebih Rendah

238
×

Revisi Ekonomi 2025: Pemerintah Pangkas, INDEF Prediksi Lebih Rendah

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 diperkirakan akan berada di bawah target pemerintah, bahkan setelah Kementerian Keuangan menurunkan target menjadi 5 persen. Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyampaikan proyeksi tersebut.

Peneliti INDEF, Esther Sri Astuti, dalam diskusi daring yang disiarkan melalui YouTube pada Selasa (2/7/2025), mengungkapkan bahwa realitas pertumbuhan ekonomi bisa lebih rendah dari angka yang ditargetkan. “Realitasnya akan lebih rendah,” ungkapnya.

Esther menjelaskan, defisit fiskal sebesar 2,78 persen pada semester awal tahun ini menjadi salah satu faktor utama.

Menurutnya, defisit fiskal yang membengkak akan berdampak pada peningkatan porsi pembayaran utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ia memprediksi porsi pembayaran utang terhadap PDB akan naik menjadi 40 persen.

“Ini tidak sekadar tekanan fiskal, tetapi ada multiplier effect yang sangat luar biasa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Esther menyoroti potensi berkurangnya belanja kementerian/lembaga dan transportasi daerah.

Ia berpendapat bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen tidak akan tercapai jika pemerintah terus mengeluarkan kebijakan yang bersifat kontraktif.

“Hal ini tidak hanya dirasakan oleh nasional, tetapi juga daerah,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan pemangkasan target pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR pada Senin (1/7/2025), Sri Mulyani mengatakan, “Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 pada kisaran 4,7 sampai 5,0 pada semester kedua.”

Selain itu, dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2025, IMF juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,1 persen.

Koreksi ini dilakukan seiring meningkatnya eskalasi perang dagang akibat pengumuman tarif resiprokal Amerika Serikat.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa IMF mengoreksi ramalan pertumbuhan ekonomi Tanah Air menjadi 0,4 persen lebih rendah dari prediksi sebelumnya.

Kendati demikian, Sri Mulyani menyatakan bahwa koreksi IMF terhadap perekonomian Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lain.

Ia mencontohkan Thailand yang direvisi sebesar 1,1 persen lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, Vietnam dikoreksi 0,9 persen lebih rendah, Filipina 0,6 persen lebih rendah, dan Meksiko dikoreksi turun 1,7 persen.

Sri Mulyani menambahkan, penurunan revisi IMF yang lebih dalam terhadap beberapa negara disebabkan oleh tingginya ketergantungan negara-negara tersebut pada perdagangan luar negeri.

“Exposure dari perdagangan internasional mereka lebih besar dan dampak atau hubungan dari perekonomian mereka terhadap AS juga lebih besar,” pungkasnya pada Senin (1/7/2025).